Monday, April 15, 2019

Faktor Penyebab Extrovert/Introvert?

Faktor Penyebab Extrovert/Introvert

Eysenck berpendapat bahwa dasar umum sifat kepribadian manusia berasal dari keturunan, dalam bentuk tipe dan trait. Namun dia juga berpendapat bahwa semua tingkah laku dapat dipelajari dan dipengaruhi oleh lingkungan. Menurut Eysenck, kepribadian merupakan keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkah laku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkah laku; sektor kognitif (intelegensi), sektor konatif (karakter), sektor afektif (tempramen), dan sektor somatis (constitution).

Kepribadian sebagai organisasi tingkah laku oleh Eysenck dipandang memiliki empat tingkatan hierarkis, antara lain:

1. Tipe, merupakan kumpulan dari trait yang mewadahi kombinasi trait dalam suatu dimensi yang luas.
2. Trait, merupakan kumpulan kecenderungan dalam berperilaku dan koleksi respon yang saling berkaitan. Trait merupakan disposisi kepribadian yang permanen.
3. Kebiasaan, merupakan kumpulan respon yang diberikan pada sebuah kondisi.
4. Respon spesifik, merupakan tingkah laku yang secara aktual dapat diamati.

Salah satu dari tiga tipe yang ditemukan oleh Eysenck adalah extrovert-introvert. Istilah extrovert mula-mula diperkenalkan oleh Jung. Jung menganggap bahwa orang extrovert memiliki padangan pribadi dan objektif terhadap dunia, sedangkan orang introvert memiliki pandangan yang subjektif dan individualis.



Eysenck percaya bahwa extrovert-introvert dipengaruhi oleh kondisi biologis dan genetis. Dari hasil penelitiannya, Eysenck menemukan bahwa orang extrovert memiliki tingkat keterangsangan korteks (Cortical Arousal Level) yang lebih rendah jika dibandingkan dengan orang introvert. CAL merupakan kemampuan korteks untuk memberikan reaksi terhadap stimulus dari panca indra. CAL yang rendah berarti korteks tidak sensitif, sehingga lemah dalam memberikan reaksi terhadap stimulus begitu pula sebaliknya.



Mereka yang extrovert memiliki CAL yang rendah, sehingga mereka memerlukan stimulus yang lebih banyak daripada introvert untuk mendapatkan tingkat stimulasi optimal dalam korteks. Inilah penyebab mengapa orang extrovert lebih memilih untuk berpartisipasi pada kegiatan yang melibatkan banyak orang seperti berpesta, olahraga beregu, dan lain-lain.



Sedangkan, mereka yang introvert memiliki CAL yang lebih tinggi, sehingga mereka hanya memerlukan sedikit stimulus untuk mendapatkan tingkat stimulasi optimal dalam korteks. Inilah yang menyebabkan mengapa orang introvert lebih menarik diri dan menghindari situasi yang dapat membuat mereka mendapatkan stimulus yang berlebih. Orang introvert lebih memilih aktivitas yang miskin rangsangan sosial seperti membaca.


Share:

Wednesday, April 10, 2019

Healthy Personality According to Freud

Id, Ego, Superego, dan Kepribadian yang Sehat

Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan diantara tiga sturktur kepribadian, yaitu id, ego, dan superego. Ketika ego mampu secara adekuat untuk memoderasi tuntutan-tuntutan dari realitas, id, dan superego, maka tercipatalah kerpibadian yang sehat. Freud percaya bahwa ketidakseimbangan diantara tiga struktur kepribadian akan menciptakan pribadi yang maladaptif.

  • Id
Id merupakan satu-satunya sturktur kepribadian yang sudah ada sejak kelahiran. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Id merupakan sistem kepribadian paling dasar yang berisi naluri-naluri bawaan (agresif dan seksual) serta keinginan-keinginan yang direpresi. Id berfungsi berdasarkan pleasure principle yang mendorongnya untuk selalu mendapatkan kenikmatan. Id juga didorong oleh kecenderungan destruktif terhadap segala sesuatu yang menghambat dan penghindaran ketidaknyamanan. Setiap kali ada kebutuhan, id secara refleks bereaksi untuk mendapatkan objek pemuas.

Dikarenakan id yang bekerja berdasarkan pleasure principle, individu yang terlalu dikuasai oleh id akan cenderung impulsif, tidak bisa dikendalikan, dan bahkan dapat menjadi kriminal. Mereka akan melakukan segala cara untuk memuaskan kebutuhan mereka tanpa ada rasa khawatir apakah perilakunya itu pantas atau dapat diterima.
  • Ego
Ego merupakan struktur kepribadian yang membawa kesatuan dan berhubungan langsung dengan realitas. Ego berkembang dari id dan berfungsi berdasarkan reality principle yang membuatnya selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan id dengan cara yang realistis dan dapat diterima secara sosial, sehingga ego bisa saja menunda untuk memenuhi kebutuhan dari id. Pribadi yang kuat memerlukan ego yang kuat, yang mampu untuk mengatasi kecemasan selagi mampu untuk membuat individu dapat berkembang di dunia nyata dengan rasa aman. Ego yang lemah tidak akan mampu untuk melawan kecemasan dan tidak akan mampu untuk menengahi antara kebutuhan id dan tuntutan dari superego. Ketika ego mengalami kerusakan, individu akan mengalami episode psikotik.

Individu yang terlalu dikuasai oleh ego akan menghasilkan pribadi yang terlalu terikat pada realitas, aturan, dan kelayakan, sehingga mereka tidak dapat ikut serta pada aktivitas yang spontan dan tiba-tiba. Mereka akan nampak terlalu keras, kaku, dan tidak dapat menerima perubahan.

  • Superego
Superego merupakan struktur kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang bersifat evaluatif. Berbanding terbalik dengan id yang menekankan kesenangan, superego lebih menekankan pada kesempurnaan. Superego menampung semua standar moral dan nilai-nilai yang kita peroleh dari orang tua dan masyarakat. Bersama dengan ego, superego berusaha mengatur dan mengarahkan tingkah laku untuk memuaskan tuntuan dari id melalui aturan-aturan dalam masyarakat, agama, atau keyakinan-keyakinan tertentu mengenai perilaku yang baik dan buruk.

Individu yang terlalu dikuasai oleh superego akan menghasilkan pribadi yang terlalu kritis dan terlalu moralistik. Mereka tidak akan pernah mampu untuk menerima segala sesuatu yang mereka anggap "kurang baik". Mereka juga akan banyak menyimpan keraguan akan diri sendiri dan bahkan menganggap diri mereka adalah musuh.
Share:

Tuesday, March 26, 2019

About Love II

"The only advantage of love at first sight is it doesn't require a second look."
― Mr. Ibis

"Gravitation is not responsible for people falling in love."
― Albert Einstein

"A touch of love, everyone becomes a poet."
― Plato

"Women marry men hoping they will change. Men marry women hoping they will not. So each is inevitably disappointed."
― Albert Einstein

"I hate to break it to you, but what people call "love" is just some kind of chemical reaction that compels animal to breed."
― Rick Sanchez

"Before you marry a person, you should first make them use a computer with slow internet to see who they really are."
― Will Ferrell

"A girl can wait for the right man to come along but in the meantime that doesn't mean she can't have a wonderful time with all the wrong ones."
― Cher
Share:

Saturday, March 23, 2019

Adlerian Typology

Tipologi Kepribadian Alfred Adler

Adler mencoba untuk memasukkan pemikirannya ke dalam ide Yunani kuno mengenai cairan tempramen yang mendasari kepribadian. Berdasarkan ide kuno ini (tipologi Hippocrates-Galen), dominasi cairan empedu kuning menghasilkan tempramen mudah marah (choleric); dominasi darah menghasilkan tempramen gembira (sanguine); dominasi cairan empedu hitam menghasilkan tempramen sedih dan misterius; dan dominasi lendir menghasilkan tempramen lesu (phlegmatic). Terhadap pola dasar ini, Adler menambahkan idenya mengenai variasi tingkat ketertarikan sosial seseorang (Gemeinschaftsgefuhl atau perasaan komunitas) dan juga pertimbangan mengenai tingkat aktivitas.

Adler mengembangkan klasifikasi kepribadian ini untuk memahami sifat destruktif dan konstruktif dari gaya hidup seseorang. Adler ragu untuk menganggap ini sebagai tipologi karena Adler percaya bahwa setiap orang memiliki gaya hidup yang unik. Meskipun demikian, Adler percaya bahwa tipologi yang ia kemukakan dapat memberikan nilai edukasi bagi orang lain. Tipologi kepribadian Adler atau tipe gaya hidup Adler dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu tipe ruling, getting, avoiding, dan socially useful.  Tipe ruling, getting, dan avoiding memiliki gaya hidup destruktif atau maladaptif sedangkan tipe socially useful memiliki gaya hidup konstruktif.


  • Ruling-Dominant (Agresif dan mendominasi)

Menurut Adler, orang-orang yang bertipe ruling memiliki minat sosial dan keberanian yang rendah. Ketika merasa terancam, mereka yang bertipe ruling mencoba untuk mengurangi kecemasan dengan cara antisosial. Usaha mereka dalam mencapai superioritas sangat intens sehingga mereka bahkan dapat mengeksploitasi dan menyakiti orang lain. Mereka yang bertipe ruling tidak akan pernah bergaul dengan orang-orang yang lebih superior dari mereka, mereka hanya akan bergaul dengan orang-orang yang lebih lemah hanya untuk dapat mendominasi orang lain.


  • Getting-Leaning (Mengambil dari orang lain dan cenderung pasif)

Orang-orang yang bertipe getting relatif pasif dan tidak memiliki hasrat untuk menyelesaikan masalah mereka sendirian. Mereka yang bertipe getting akan bergantung pada orang lain untuk merawat diri mereka. Adler menganggap bahwa anak-anak yang terlalu dimanja akan menjadi malas untuk menyelesaikan masalah sendirian, tidak memiliki kesadaran akan kemampuan dirinya sendiri, dan kurangnya rasa percaya diri. Karena kurangnya rasa percaya diri, mereka akan mengelilingi diri mereka dengan orang-orang yang mampu memuaskan kebutuhan mereka. Orang-orang yang bertipe getting biasanya akan menggunakan rayuan kepada orang lain supaya mereka mendapatkan bantuan.


  • Avoiding (Melawan atau mengatasi masalah dengan cara menjauh)

Orang-orang yang bertipe avoiding tidak memiliki rasa percaya diri untuk menyelesaikan krisis yang sedang mereka hadapi. Alih-alih menghadapi masalah, mereka memiliki kecenderungan untuk menghindar dari masalah untuk mencegah dari mereka dari kekalahan. Adler mengaggap bahwa orang-orang yang bertipe avoiding hanya memikirkan diri mereka sendiri, mereka lebih sering menghayal dan menciptakan fantasi dimana mereka menjadi superior.


  • Socially useful (Menghadapi masalah secara realistis, kooperatif dan penyayang)

Orang-orang yang bertipe socially useful tumbuh dalam keluarga yang penuh kehangatan, suportif, dan respek. Mereka tidak pernah mengatasi masalah dengan kekerasan atau melarikan diri. Alih-alih mereka memiliki keberanian untuk menghadapi masalah secara langsung. Adler menganggap bahwa orang-orang bertipe socially useful merupakan orang-orang yang sehat secara psikologis. Mereka menghadapi segala sesuatu dengan penuh percaya diri, siap untuk bekerja sama dengan orang lain, dan berkontribusi untuk membangun komunitas yang lebih baik.

Orientasi kepribadian ini berkembang semenjak masa awal kehidupan. Adler percaya bahwa tubuh yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan akan dianggap oleh pikiran sebagai sesuatu yang suatu halangan. Anak-anak yang mengalami halangan tersebut ditantang untuk mengatasi keterbatasan mereka, baik dengan cara yang aktif yang tidak bersifat sosial (mendominasi) atau cara aktif yang bersifat sosial (bekerja sama); dengan cara pasif yang tidak bersifat sosial (mengambil apa yang diberikan orang lain) atau cara pasif yang depresif (melarikan diri).

Daftar Pustaka
Friedman, H. S., & Schustack, M. W. 2008. Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern. Jakarta: Erlangga.
Ryckman, R. M. 2008. Theories of Personality (7th ed.). Thomson Wadsworth: Belmont.
Share:

Wednesday, March 20, 2019

Hippocrates-Galenus Typology

Tipologi Kepribadian Hippocrates-Galenus

Kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa inggris personality. Kata personality sendiri berasal dari bahasa latin persona yang berarti topeng yang digunakan para aktor dalam suatu pertunjukan. Kepribadian merupakan istilah yang menunjukkan hal-hal khusus tentang individu dan yang membedakannya dengan orang lain. Kepribadian merupakan bagian dari individu yang paling mencerminkan atau mewakili pribadi. 

Tipologi Hippocrates-Galenus dikembangkan oleh Galenus yang didasarkan pada pemikiran Hippocrates. Hippocrates sendiri terpengaruh oleh pandangan Empedocles yang menyatakan bahwa alam sememsta beserta isinya tersusun dari empat unsur dasar, yaitu tanah (kering), air (basah), api (panas), dan udara (dingin). Berdasarkan pandangan Empedocles, Hippocrates menyatakan bahwa di dalam tubuh setiap manusia terdapat empat macam cairan yang memiliki sifat seperti unsur alam, yaitu:

  1. Sifat kering dimiliki chole atau empedu kuning.
  2. Sifat basah dimiliki oleh melanchole atau empedu hitam.
  3. Sifat dingin dimiliki oleh phlegma atau lendir.
  4. Sifat panas dimiliki oleh sanguis atau darah.
Hippocrates menganggap bahwa keempat cairan ini terdapat dalam tubuh setiap manusia dengan proporsi yang tidak selalu sama antar satu individu dengan individu lainnya. Dominasi salah satu cairan tersebut akan menimbulkan ciri khas pada setiap orang. Sejalan dengan Hippocrates, Galenus berpendapat bahwa dominasi salah satu cairan terhadap cairan lain akan menimbulkan sifat-sifat kejiwaan yang khas. Sifat-sifat kejiwaan yang khas pada setiap manusia ini disebut Galenus sebagai tempramen. Galenus membagi empat tempramen berdasarkan jenis cairan yang mendominasi dalam tubuh, antara lain:
  • Tipe Choleric
Tipe choleric didominasi oleh cairan empedu kuning yang membuat mereka memiliki sifat khas mudah terbakar tetapi mudah tenang; cepat dalam mengambil tindakan; lebih suka memerintah daripada diperintah; bernafsu untuk mengejar kehormatan; dan selalu berpakaian cermat dan rapi. Namun, mereka yang bertipe choleric memiliki sifat khas negatif seperti selalu merasa kurang puas; agresif; emosional; tidak mau mengalah; tidak sabaran; kurang memiliki rasa humor; dan terlalu kaku.
  • Tipe Melancholic
Tipe melancholic didominasi oleh cairan empedu hitam yang membuat mereka memiliki sifat khas mudah kecewa; daya juang kecil; pesimistis; penakut; sulit menyesuaikan diri; berhati-hati; dan kaku. Namun, dibalik sifat khas yang cenderung penyendiri, mereka yang bertipe melancholic merupakan orang-orang dengan kemampuan analitis yang baik; kreatif; rapi; hemat; dan rela untuk mengorbankan diri. Orang-orang yang bertipe melancholic selalu berusaha untuk menepati janji yang telah mereka buat, namun ini tidak dilakukan dengan alasan pertimbangan moral, melainkan dengan alasan bahwa mengingkari janji akan membuat risau dirinya.
  • Tipe Phlegmatic
Tipe phlegmatic didominasi oleh cairan lendir yang membuat mereka memiliki sifat khas tenang; tidak mudah dipengaruhi; setia; berpendirian kuat; santai; dan sabar. Namun, mereka yang bertipe phlegmatic merupakan orang-orang yang sangat s menghindari konflik beserta tanggung jawab; pemalu; pendiam; benci didesak; dan masa bodoh.
  • Tipe Sanguine
Tipe sanguine didominasi oleh cairan darah yang membuat mereka memiliki sifat khas cerewet; antusias; senang bergaul; tidak menyimpan dendam; penuh harapan; senang membantu orang lain; ramah; dan periang. Namun, mereka yang bertipe sanguine memiliki kekurangan seperti tidak disiplin; pelupa; ingin dipuji; tidak konsisten; berantakan; mudah bosan; dan mudah kehilangan fokus. 

Kekurangan dan Kelebihan Tipe Kepribadian Hippocrates-Galenus

Kelebihan
Sanguine
Choleric
Melancholic
Phlegmatic
Periang
Petualang
Analitis
Tenang
Supel
Persuasif
Gigih
Penurut
Humoris
Berkemauan Keras
Rela Berkorban
Sabar
Bersemangat
Mandiri
Perencana
Konsisten
Populer
Produktif
Perfeksionis
Menyenangkan
Lincah
Pemimpin
Loyal
Pendengar
Ceria
Percaya Diri
Berbudaya
Konsisten
Lucu
Tegas
Setia
Ramah

Kekurangan
Sanguine
Choleric
Melancholic
Phlegmatic
Tidak Disiplin
Apatis
Pendendam
Masa Bodoh
Pelupa
Terlalu Jujur
Rewel
Penakut
Serampangan
Keras Kepala
Sulit Puas
Ragu
Plin-Plan
Licik
Kritis
Berkompromi
Berlagak
Bebal
Skeptis
Lamban
Berantakan
Manipulatif
Muram
Pemalas
Permisif
Sombong
Mudah Marah
Datar
Ingin Dipuji
Gila Kerja
Menarik Diri
Pencemas

Daftar Pustaka
Suryabarata, S. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Astuti, T. R. 2016. "Deskripsi Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMAN 4 Purwokerto (Ditinjau dari Tipe Kepribadian Tipologi Hippocrates-Galenus)". Purwokerto: Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Share:

Thursday, March 14, 2019

Birth Order Affects Personality

Peran Urutan Kelahiran Terhadap Kepribadian

Dengan berfokus pada struktur sosial dan observasi yang tajam (baik terhadap masa kecilnya sendiri maupun masa kecil orang lain), Adler menjadi yakin akan pentingnya urutan kelahiran dalam menentukan karakteristik kepribadian. Dalam terapi, Adler hampir selalu menanyakan kliennya mengenai keadaan keluarga seperti urutan kelahiran, jenis kelamin, dan usia saudara sekandung dari klien. Pembahasan mengenai keluarga dapat dijadikan pertimbangan bagi orang tua dalam mengasuh anak-anaknya.


Adler mengembangkan teori urutan lahir didasarkan pada keyakinan bahwa keturunan, lingkungan, dan kreativitas individual merupakan aspek-aspek yang menentukan kepribadian. Dalam sebuah keluarga, setiap anak lahir dengan unsur genetik yang berbeda, masuk dalam lingkungan sosial yang berbeda, dan anak-anak itu akan menginterpretasi situasi dengan cara yang berbeda. Karena itu penting untuk melihat urutan kelahirandan perbedaan cara orang menginterpretasi pengalamannya.

1.      Anak Sulung



Anak sulung mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya, sampai perhatian tersebut terbagi saat dia mendapat adik. Anak sulung pada awalnya menjadi anak terfavorit karena mereka adalah “satu-satunya”, namun anak sulung harus belajar untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka bukanlah lagi fokus utama dan bahwa orang tua mereka harus membagi perhatiannya dengan saudara yang lain. Kelahiran adik menimbulkan dampak traumatik kepada anak sulung yang mengalami “dethroned” (turun tahta).
Perubahan yang tiba-tiba ini dapat mendorong munculnya sifat kemandirian dan perjuangan untuk mendapatkan status, atau mereka akan mengembangkan peran sebagai orang tua semu yang membantu mengasuh saudara kandung. Anak sulung mungkin akan menjadi pemuda yang bertanggung jawab—melindungi adik atau sebaliknya menjadi orang yang merasa tidak aman dan miskin ketertarikan sosial. Itu semua tergantung kepada sejumlah faktor seperti cacat, persiapan dalam menerima saudara baru, interpretasi unik terhadap pengalamannya sendiri. Kalau adiknya lahir sesudah usianya 3 tahun atau lebih, kelahiran adiknya akan digabungkan pada peristiwa hidup yang sudah dimilikinya. 
Anak sulung mungkin bisa membenci adiknya, tetapi kalau dia sudah mengembangkan gaya kooperatif, dia akan memaki gaya kooperatif itu kepada adiknya. Apabila adiknya lahir sebelum dia berusia 3 tahun, kemarahan dan kebencian itu sebagian besar tidak disadari, sikap itu akan menjadi resisten dan sulit untuk diubah pada masa dewasa.

2.      Anak Kedua



Anak kedua merupakan penyebab anak pertama “turun tahta” juga berada situasi yang unik. Mereka tidak pernah merasakan posisi yang pernah ditempati anak pertama (“satu-satunya”). Bahkan dengan kelahiran adiknya, anak kedua tidak akan pernah merasakan “turun tahta” seperti yang pernah dirasakan anak pertama. Anak kedua memiliki kecenderungan untuk memandang anak pertama sebagai kompetitor yang harus dilalui. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang berguna karena dapat mendorong anak kedua mendapatkan pencapaian yang lebih besar, namun kegagalan yang berulang dapat merusak kepercayaan diri anak kedua.
Menurut Adler, anak kedua (seperti dirinya) memulai hidup dalam situasi yang lebih baik untuk mengembangkan kerjasama dan minat sosial. Sampai pada tahap tertentu, kepribadian anak kedua akan dibentuk oleh pengamatan terhadap sikap kakaknya kepada dirinya. Jika sikap kakaknya penuh kemarahan dan kebencian, anak kedua akan menjadi terlalu kompetitif atau menjadi sangat penakut. Jika sikap kakaknya sangat supportif dan melindungi, anak kedua akan memiliki kecenderungan untuk maju dan memiliki perkembangan yang sehat
.
Adler menganggap bahwa anak kedua memiliki kecenderungan untuk menjadi kompetitif atau bahkan revolusioner, mereka lebih memilih untuk mencari kekuasaan dan selalu mendambakan persaingan. Anak kedua yang masak dengan dorongan kompetisi yang baik memiliki keinginan yang sehat untuk mengalahkan kakaknya. Jika anak kedua mengalami banyak keberhasilan, mereka akan mengembangkan sikap revolusioner dan merasa bahwa otoritas dapat dikalahkan. Namun, interpretasi anak terhadap kejadian lebih penting daripada posisi kronologis mereka (urutan kelahiran).

3.      Anak Bungsu



Adler percaya bahwa anak bungsu merupakan anak yang paling dimanja, sehingga beresiko tinggi untuk menjadi anak yang bermasalah. Anak bungsu akan dianggap sebagai “bayi” dan memiliki kecenderungan untuk menjadi pusat perhatian dari keluarga. Adler menganggap bahwa orang tua kemungkinan akan lebih memanjakan anak bungsu daripada anak pertama atau kedua. Hal ini akan menyebabkan anak bungsu menjadi terlalu bergantung pada dukungan dan lingkungan orang lain. Anak bungsu mudah terdorong untuk memiliki perasaan inferior yang kuat dan tidak mampu berdiri sendiri.
Anak bungsu memiliki banyak keuntungan seperti mereka sering termotivasi untuk melampaui saudara-saudaranya, menjadi anak yang ambisius. Terdorong oleh keinginan untuk melampaui saudara-saudaranya, anak bungsu biasanya akan berkembang dalam waktu yang lebih cepat. Anak biasanya akan lebih sukses dari saudara-saudaranya pada saat dewasa. Namun, Adler percaya bahwa memiliki panutan yang berlebihan dari saudara kandung akan menyebabkan anak bungsu merasa sangat tertekan untuk sukses pada semua bidang, dan ketidakmampuan sang anak untuk melakukannya akan mengakibatkan anak bungsu menjadi malas dan cenderung memiliki sikap mengalah.

4.      Anak Tunggal

Anak tunggal mempunyai posisi yang unik dalam berkompetisi, tidak dengan saudaranya, tetapi dengan ayah dan ibunya. Anak tunggal tidak pernah “turun tahta” dan akan tetap menjadi pusat perhatian dari orang tua. Karena anak tunggal lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan orang tua, mereka akan lebih cepat matang atau mereka akan memiliki perasaan superioritas yang berlebihan. Anak tunggal yang dimanja akan merasa bahwa mereka akan selalu menjadi pusat perhatian dan membentuk perasaan yang berlebihan tentang dirinya sendiri.



Anak tunggal tidak pernah belajar untuk berbagi atau berkompetisi karena tidak memiliki saudara, mereka biasanya akan kesulitan diluar rumah seperti sekolah, dimana mereka bukanlah pusat perhatian dari semua orang. Adler menganggap bahwa anak tunggal memiliki sifat parasit dan berharap bahwa semua orang akan memanjakan dan melindungi dirinya.

Ciri Kepribadian Berdasarkan Urutan Kelahiran


Anak Sulung
Anak Kedua
Anak Bungsu
Anak Tunggal
Situasi Dasar
·         Menerima perhatian penuh dari orang tua.
·         “Turun tahta” karena kelahiran adik dan harus berbagi perhatian.
·         Memiliki figur yang dapat ditiru, anak sulung.
·         Harus berbagi perhatian sejak awal
·         Memiliki banyak figur yang dapat ditiru.
·         Menerima banyak perhatian.
·         Sering dimanja.
·         Menerima perhatian yang tidak terbagi.
·         Cenderung cukup dengan orang tuanya.
·         Sering dimanja.
Dampak Positif
·         Bertanggung jawab.
·         Protektif
·         Melindungi orang lain.
·         Memiliki motivasi tinggi.
·         Kompetitor yang sehat.
·         Lebih mudah menyesuaikan diri.
·         Sering mengungguli semua suadaranya.
·         Ambisiuis yang realistik.
·         Masak secara sosial.
Dampak Negatif
·         Insecure.
·         Pemarah.
·         Pesimistik.
·         Berjuang untuk diterima.
·       Tidak kooperatif
·         Pemberontak.
·         Pengiri.
·         Cenderung berusaha mengalahkan orang lain.
·         Mudah kecil hati.
·         Sukar berperan sebagai pengikut.
·       Merasa inferior dengan siapa saja.
·       Tergantung pada orang lain.
·       Gaya hidup yang manja.
·        Ingin menjadi pusat perhatian.
·         Takut bersaing dengan orang lain.
·         Gaya hidup yang manja.
·         Merasa kedudukan dirinya selalu benar.






Daftar Pustaka:
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. UMM Press: Malang.
Ewen, R. B. 2003. An Introduction to Theories of Personality (6th ed.). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.
Feist, J., & Feist, G. J. 2008. Theories of Personality (11th ed.). McGraw Hill: USA
Friedman, H. S., & Schustack, M. W. 2008. Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern. Jakarta: Erlangga.
Ryckman, R. M. 2008. Theories of Personality (7th ed.). Thomson Wadsworth: Belmont.
Schultz, D. P., & Schultz, S. E. 2005. Theories of Personality (8th ed.). Thomson Wadsworth: Belmont.
Share: